3 weeks ago, Posted by: uhaba02

Penguatan Perlindungan dan Ketegasan Hukum Untuk Perlindungan Satwa Liar Indonesia

Indonesia ialah salah satu negeri yang mempunyai keanekaragaman biologi terbanyak di dunia. Tetapi, Indonesia pula jadi salah satu negeri yang banyak mengalami praktek kejahatan terhadap satwa- satwa liarnya. Kenyataan ini paling tidak terungkap dalam pelatihan kenaikan kapasitas penuntut universal dalam penindakan masalah tindak pidana terpaut binatang liar, yang diselenggarakan International Animal Rescue( IAR) Indonesia bersama Kejaksaan Agung Republik Indonesia, di Surabaya sepanjang 3 hari ini.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Universal, Noor Rochmad mengatakan, kenaikan kapasitas jaksa penuntut universal terpaut masalah tindak pidana perdagangan binatang liar sangat dibutuhkan, selaku upaya bersama penegakan hukum di bidang proteksi tumbuhan serta binatang liar di Indonesia.

“ Gimana biar jaksa itu lebih bermutu, sehingga apa yang diperbuat kala membuat tuntutan itu, tuntutan yang bukan cuma berakibat penjeraan pada pelakunya namun pula jadi energi cegah untuk yang lain biar tidak berbuat yang sama. Sesungguhnya tidak senantiasa ya( tuntutan rendah), cuma sebagian tempat yang semacam itu, sebab ya bisa jadi sahabat di wilayah belum menguasai kalau betapa berartinya melindungi kelestarian area, sehingga mereka tidak amati lebih jauh ke depan. Harapannya itu ya satu visi, gimana biar kita bersama- sama dalam rangka buat memerangi kejahatan( perdagangan) binatang liar ini.”

Berartinya Penguatan Hukum Dalam Proteksi Binatang Liar di Indonesia

International Animal Rescue( IAR) Indonesia mencatat lebih dari 80 persen binatang yang diperdagangkan secara daring ataupun lewat pasar burung, ialah tangkapan dari alam liar. Perihal ini bisa merangsang fenomena hutan tanpa binatang, apabila perburuan binatang liar terus berlangsung. Catatan lain pula mengatakan kalau kejahatan binatang liar secara global menempati posisi kedua sehabis kejahatan narkotika. Departemen Area Hidup serta Kehutanan mengatakan nilai kerugian negeri akibat perdagangan binatang liar secara ilegal diperkirakan menggapai Rp. 13 Triliun per tahun.

Pimpinan Universal IAR Indonesia, Tantyo Bangun berkata, kerugian akibat kejahatan terpaut binatang liar tidak cuma sebab hilangnya binatang, melainkan pula pengeluaran buat merehabilitasi binatang liar korban perdagangan ilegal.

“ Sedangkan ini kan orang memandang kerugian( perdagangan) binatang liar itu pemahamannya binatang secara orang, tetapi gunanya di ekosistem, jika ia lenyap gimana ekosistem dapat runtuh, setelah itu pula kerugian negeri. Jika semacam kami menanggulangi permasalahan orangutan, orang cuma memandang orang ya, tetapi bayaran rehabilitasi orangutan itu setahun antara Rp. 60 juta hingga Rp. 100 juta per orang. Jadi jika kita minimun merehabilitasi sepanjang 5 tahun, itu satunya dekat Rp. 300 juta hingga 500 juta, itu kan negeri rugi sebab bayaran segitu dapat dipakai buat menyekolahkan anak berapa puluh anak, berapa ratus anak gitu. Jadi kerugian seperti itu dengan ditambah kerugian ekosistem, dapat kita bebankan buat penuntutan,” jelas Tantyo Bangun.

Proses hukum terhadap pelakon kejahatan terpaut binatang liar sepanjang ini memakai Undang- undang no 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Aku Alam Biologi serta Ekosistemnya, yang dikira para aktivis area serta binatang tidak lumayan efisien buat menghindari ataupun menanggulangi kegiatan perburuan serta perdagangan binatang liar secara ilegal. Perihal ini sebab ancaman hukuman pidanan untuk pelakon dikira sangat rendah, sehingga tidak memunculkan dampak jera.

Tetapi, Tantyo Bangun senantiasa optimis penindakan permasalahan hukum terpaut binatang liar bisa senantiasa dijerat dengan hukuman pidana di atas 5 tahun.“ Itu kan proses yang di legislatif, serta kita tidak dapat cuma menunggu, tetapi pintunya banyak sekali. Jadi prinsipnya merupakan multi- dooritu. Jika saat ini dari kepabeanan dapat, dari karantina dapat, dari pencucian duit dapat, tidak hanya dari undang- undang area hidup sendiri, serta itu kumulatif kan, dapat jadi bisa jadi telah dapat mendekati 10 tahun( ancaman hukuman),” jelasnya.

Menyikapi masih maraknya permasalahan perdagangan binatang liar ilegal, Direktur Konservasi serta Keanekaragaman Biologi( KKH), Departemen Area Hidup serta Kehutanan( KLHK), Indra Eksploitasia berkata, tantangan di bidang konservasi binatang dikala ini terdapat pada penindakan konflik antara binatang serta manusia, dan pengawasan serta mekanisme perizinan terpaut proteksi binatang cocok peraturan perundangan yang berlaku.

" Terdapat 2 tantangannya ini, di sisi insitu serta di sisi eksitu. Di insitu merupakan gimana kita menanggulangi konflik binatang dengan manusia, serta di eksitu merupakan gimana wujud pengawasan efisien, gimana seluruh mekanisme perizinan itu cocok denganperaturan perundangan,” kata Indra Exploitasia.

Sedangkan itu, Hari Sutrisno, dari Pusat Riset Hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia( LIPI) berkata, berkurangnya binatang liar di Indonesia dikala ini lebih diakibatkan konversi lahan yang jadi habitat binatang liar.

“ Yang sangat berarti saat ini merupakan ekosistem dilindungi, habitat dilindungi, sebab sesungguhnya kehancuran yang sangat mengkhawatirkan di Indonesia ini merupakan konversi lahan itu, itu yang lebih dominan sesungguhnya, dari pada overeksploitasi. Tetapi bukan berarti overeksploitasi itu diabaikanya, tetapi lebih baik preventif dengan metode bimbingan, dengan metode kampanye, berikan uraian kepada kanak- kanak yang masih tingkat dini kalau jika salah satu komponen ekosistem itu lenyap, itu kita hendak hadapi kepunahan keseluruhannya, kerugian ekosistem itu lebih tidak hendak sempat tergantikan,” jelas Hari Sutrisno.

Hari Sutrisno, yang pula ahli zoologimenambahkan, masih panjangnya catatan binatang serta tumbuhan yang dilindungi ialah gejala masih banyaknya kehancuran di alam, baik terhadap tumbuhan ataupun binatang.

“ Kala kita telah memastikan suatu status proteksi, itu yang sangat berarti memanglah membagikan sosialisasi kepada warga, kalau terus menjadi panjang catatan yang kita proteksi, maksudnya sesungguhnya peristiwa realdi alam kita kan telah hadapi kehancuran. Jadi kala kita telah, oh ini kok masuk proteksi maksudnya apa, di alamnya telah sangat jarang, jika tidak sangat jarang berarti memanglah sangat endemik. Setelah itu, mungkin telah kecenderungan populasinya menyusut,” imbuhnya.

https://www.unair.ac.id


Post Views: 42


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved